sudah lama ndak nulis di blog ya..
hari ini aku coba nulis setelah lama ndak nulis..
yang ingin aku tulis ini mungkin sifatnya agak melankolis kali ya..
walau mungkin tipikal diri ku adalah
sanguinis.. kata si adhya yang beberapa hari ini lagi rada aneh..
kenapa postingan kali ini aku tulis seperti itu..? hal ini dikarenakan aku baru saja melayat ke rumah eyangku di jakarta, beliau bernama eyang sukasih..
ibu dari ibuqu yang sering kali berpindah rumah sepanjang hidupnya.. mulai dari solo kemudian ujung pandang, kemudian manado, kemudian menetap di jakarta hingga akhir hayatnya..
dalam keluarga qu, eyang sukasih adalah orang paling sepuh yang masih ada dalam keluargaqu, maklum kakek dan nenekqu dari pihak bapak juga sudah tidak ada.. jadi sebenarnya aku merindukan sosok kakek dan nenek sih kalau sudah seperti ini..
hari kemaren di awali pada sebuah dering telpon di tengah malam yang membangunkanku.. mbak vinza kakak sepupuku mengabarkan bahwasanya eyang sudah tidak ada, langsung saja aku teringat pada satu minggu yang lalu aku dan ibuqu mengunjungi eyangqu di jakarta, entah kenapa aku dan ibuqu memiliki firasat bahwa itu adalah pertemuan yang terakhir antara aku dan eyangqu..
oleh karena itu perpisahan hari itu terasa cukup berat karena kita tidak tahu akan bertemu kembali atau tidak, mungkin ini alasan kenapa orang berat dalam berpisah kali ya..
eyangku ini yang aku kenal adalah sosok yang amat gigih dalam berjuang, beliau lahir dan besar dalam lingkungan protokoler keraton solo, anak dari seorang pemimpin pasukan kerajaan yang memiliki tata adi luhung tinggi..
hal ini terlihat dari kekuatan karakter beliau dalam berdisiplin dan merawat dirinya.. beliau memiliki 6 orang anak, ibu qu adalah yang nomor 2, ibuqu pun menurunkan sifat eyang ku yang cukup keras, di antara nya adalah kemandirian..
semenjak muda ibu biasa hidup tanpa tergantung orang lain, oleh karena itu lah beliau pernah menjadi satu satunya tenaga medis dalam sebuah daerah pelopor transmigrasi di sulawesi selatan pada tahun 70 an.. sesuatu yang sulit aku bayangkan karna beliau adalah wanita..
baiklah kembali ke masa kini..
hari jumat itu jujur aja merupakan sebuah ujian bagi kami, mendapat kabar yang begitu mendadak membuat reflek dan intuisi akan sesuatu bekerja dengan sendirinya.. jam 3 malam telpon terus berdering dari saudara saudara di solo, jakarta, dan manado yang saling mengabarkan meninggal nya eyang, kami yang bertempat tinggal di jogjakarta memiliki sebuah niatan untuk bisa datang menghantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhir..
dan jam 3 malam itulah kugunakan seluruh kemampuan ku untuk mendapatkan tiket pesawat ke jakarta pagi itu, mulai dari browsing di internet sampai memesan melalui telpon.. tapi tampaknya hasilnya masih nihil..
dan kita sempat ragu tampaknya memang belum di berikan jalan untuk menghantarkan beliau sampai ke jakarta..
hingga jam 8 pagi aku masih belum bisa beraktifitas apa apa karena aku takut bersalah pada ibuqu kalau aku tidak bisa mengusahakan beliau bertemu dengan eyangnya di hari itu..
dan akhirnya baru jam 9 lah keputusan dibuat kalau bagaimanapun caranya aku harus bisa nganterin ibuqu ke halim perdana kusuma.. tempat eyang ku di makamkan..
jam 9 itu aku langsung memesan taksi ke bandara dan sedikit gambling untuk mendapatkan tiket pesawat..
loker yang kuhampiri hampir semuanya mengatakan tidak ada penerbangan sebelum jam 12, jam di mana eyang ku di makamkan.. langsung aja lututku lemes.. wah tampaknya memang tidak bisa ke jakarta nih..
namun aku melihat ada sedikit harapan saat loket garuda masih terbuka dan kutanyakan apakah ada penerbangan ke jakarta hari itu yang langsung mereka jawab ada jam 11, langsung aja aku melompat kegirangan dan memesan 2 tiket penerbangan..
rasanya hampir mustahil untuk mencapai tempat eyangku tepat waktu karena pesawat baru landing di jakarta jam 12, namun saudara ku menelpon bahwasanya pemakaman mundur satu jam, langsung saja aku memesan satu taksi di mana sopir nya yang bernama pak poltak langsung ngebut setelah mengetahui dia mengangkut tamu penting yang sedang ditunggu tunggu dalam sebuah acara pemakaman..
sepanjang perjalanan telpon berdering terus karena saudara terus bertanya sudah sampai mana perjalanan kita.. dan untunglah setelah menggunakan model estafet (taksi berhenti di JOR jati asih dan aku langsung di jemput mas iwan dengan mobilnya, kami langsung meluncur ke rumah duka) tampak bahwasanya memang tinggal kita yang ditunggu oleh rombongan agar ibu dapat melihat wajah eyang untuk terakhir kalinya.
melihat eyangku yang di semayamkan segera saja ibuqu menghambur ke beliau dan tidak mampu menahan emosinya yang dapat beliau pendam dengan baik saat masih berada di jogja..
aku bersukur dapat ngaterin ibuqu menemui ibunya.. karena aku yakin kalau hari itu aku lebih egois dikit pasti aku akan menyesal seumur hidupqu..
sepanjang prosesi pemakaman ibuqu terus menerus memeluku foto eyangqu yang tampak anggun dalam balutan kebaya nya, beliau sekilas tampak seperti seorang anak kecil yang membutuhkan perlindungan dari orang tua nya, yup dari eyangqu..
tempat pemakaman sore itu tampak syahdu karena bertempat di kaki bukit halim perdana kusumah, di pemakaman tni au, tempat keluarga besar eyangqu berafilisiasi.. angin dan langit sore itu berwarna merah jambu.. warna sejuta hati yang bersatu memberikan penghormatan terakhir kepada eyangku.. dan berakhirlah satu cerita kehidupan.. kehidupan wanita yang gigih mempertahankan keluarganya..
banyak wanita hebat di sekitarqu..
saluuut!!